Sunday, 9 February 2014

Mempertanyakan Cinta Sejati

Luthfi dilematis. Entah ketiban beruntung atau dilanda masalah. Iya baru saja mendengar kabar tentang Masyita yg baru saja menggugat cerai suaminya. Alasan Masyita menggugat cerai saat ini belum ia ketahui. Tapi ia masih belum lupa kalau ia pernah mengatakan "kutunggu jandamu" beberapa saat setelah Masyita menikah dengan pilihan orang tuanya.
Mendengar kabar itu, Luthfi mengucapkan rasa syukur seketika yang seharusnya turut empati atau minimal simpati atas gagalnya Masyita merangkai huruf "A,A,H,I,K,N, dan S" menjadi "SAKINAH" dalam "KELUARGA"nya. Benak terdangkal Luthfi berkata "Tuhan telah mempersembahkan Masyita kembali padaku".image
Belum beralih dari Masyita, iya kembali berpikir tentang Suriani. Seorang wanita cantik yang akhir-akhir ini sering dipujinya. Bahkan Luthfi pernah berkata pada Suriani “Yakin, kamulah yang sejati”. Meski Suriani hanya menanggapinya dengan standard yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Luthfi paham dan yakin jika itu artinya ; Kalau memang jodoh, pasti akan ketemu jua.
Perkataan itu Luthfi anggap bahwa memang seperti itulah Kalimat seorang wanita yang sebenarnya merasa tidak sreek kalau saja harus dengan gambling berkata “Tidak” atau paling banternya “Ngaca dulu lah”. Luthfi juga masih penasaran tentang Masyta sekarang. Masihkah Masyita seperti dahulu? Seperti saat ia belum punya anak dan belum berstatus janda? Apakah Luthfi siap menjadi seorang ayah 1 detik setelah ijab-kabul selesai? Luthfi tak mampu berpikir sejauh itu.
Luthfi ke Toko pamannya. Toko kosmetik yang secara kebetulan terkondisikan, Ibu Luthfi menyuruhnya mengambil sebuah pesanan yang dua hari sebelumnya dibicarakan bersama Pamannya Luthfi. Tapi tujuan utama Luthfi lain. Luthfi tahu kalau baru saja pamannya diangkat sebagai Boss oleh Masyita, dalam kurung Masyita menjadi salah-satu karyawan Pamannya Luthfi.
Tampak kejauah, dua orang laki-laki duduk di toko itu. Tak tampak seorang berciri Masyita yang masih lajang. Luthfi masih santai kelihatannya (ketidak-lihatannya yang dahsyat). Terjadilah pembicaraan sengit antara ponakan dan paman tentang pesanan Kakak sekaligus Ibu. Dan terpotonglah pembicaraan saat Luthfi melihat dari kejauhan sosok yang sering dilihatnya di film-film horror. Yah, pocong. Tapi semakin dekat semakin tidak menyerupai pocong. Dan seorang masyita yang baru saja dari mushallah menggunakan mukena berwarna putih polos. Berjalan sambil menunduk di antara etalase kaca yang penuh dengan Bedak, Lulur, Sabun, Parfum, Hand & Body spesifikasi siang dan malam serta anti sinar UV A dan UV B.
“Dum…bak…dum…bak…dum…bak”Bunyi dada Luthfi yang semakin lama semakin kencang saja. Tiba-tiba ada bunyi yang lebih keras “heiiikkikikkkkkkkk (klo ini bunyi rem)” tapi dada Luthfi makin kencang, karena bukanlah kencangnya detupan jantung Luthfi yang ter-rem, melainkan sebuah mobil yang hampir saja kecelakaan tepat depan toko paman Luthfi. Luthfi, mencoba tenang.
Tertegun, Luthfi sambil sedikit melirik takut matanya kedapatan sedang menatap seorang wanita pujaannya yang menurutnya baru saja dikembalikan dari sebuah penitipan sementara (Luthfi tetap mengingat kalau wanita cantik itu sudah Janda). Dari JANDA, menjadi JAND, kemudian JAN, lalu JA, sebelum terakhir J, dan finally Janda yang menjadi gelar Masyita terhapus oleh kejelitaannya saat itu (di mata Luthfi).
Luthfi melanjutkan threat garing dan sedikit Jayus, “trus, pesanan Ibu saya mana Om?”. Pamannya Luthfi tidak menjawab, tapi malah menyuruh Masyita untuk mengambil, sesuatu di dalam sebuh kantung plastic hitam berisi box kecil. Dan datanglah Masyita dengan gemulai yang tidak dibuat-buatnya membawa sesuatu yang berwarna hitam. Tapi dalam bayangan Luthfi, sesuatu yang berwarna hitam itu adalah seuntai bunga mawar, warna merah pula. Sungguh warna yang sangat tidak kontras dan sulit dibayangkan tentunya.
“Dum…bak…dum…bak…dum…bak”, penyakit sesak nafas yang baru 3 menit lalu diderita Luthfi kambuh lagi. Sungguh merupakan penyakit mematikan bagi mereka yang tidak kuat fisik dan mental. Makanya Luthfi hampir saja mati di tempat itu. Untung saja ada dua buah uang kepingan 500 yang dipegangnya. Lalu berkata “Masyita, yuk maen karambol yuk” sambil menunjukkan dua kepingan uang 500,- yang dipegangnya di kiri dan di kanan dengan gaya yang sangat ekspresif.
Masyita tersenyum lalu berkata “Jadi ingat waktu kecil dulu. Oh, iya ini pesanannya, PADUKA RAJA”.
DAN WAKTUPUN MUNDUR KE BELAKANG (apa memang ada mundur ke depan?)
Luthfi yang berumur 9 tahun mengenal Masyita yang juga seusia itu saat menjadi tukang kipas tangan kedua mempelai di pelaminan. Kalau di Denmark (Depan Masjid ArRakhman), kampung Luthfi, orang-orang menyebutnya dengan “Passappi’” . Awalnya sering saling ejek, lalu bersahabat. Lama kelamaan, tanpa ada kesepakatan, kalau Luthfi berkunjung ke rumah neneknya (di kampung Masyita juga) mereka selalu bertemu di rumah Saudarinya Nenek Luthfi, Nenek Luthfi juga tuh! Dan Nenek Masyita juga. Di rumah nenek mereka itulah mereka sering main karambol.
(Owww) baru tahu kan, klo Luthfi dan Masyita masih keluarga! Penulis saja baru tahu! (terkekeh-kekeh).
Ke-dua pasangan B-SIX (Bocah Baru Berhenti Beringus Berjatuhan di Baju) itu sudah tamat SD. Luthfi sangat senang, NEM (Nilai EBTANAS Murni)-nya lebih tinggi dari NEM Masyita. Masyita sepertinya sedih. Tapi selain sudah tamat SD mereka juga sudah pandai menulis surat cinta. Dan karena tulisan Luthfi jelek, Luthfi memberikan kelereng kepada temannya yang mau menuliskannya surat cintanya kepada Masyita. Tapi bukan Cuma mau, harus tulisannya bagus dan rapi. Rugi donk si Luthfi kalau tulisannya tetap jelek. Dan begitulah ceritanya sampai Tamat SLTP. Lagi-lagi nilai UAN Luthfi lebih tinggi dari Nilai Masyita. Masyita tidak putus asa. Dia ingin kembali bertaruh di nilai UAN SMA.
“Taruhannya, kamu harus memanggil saya KANJENG RATU selama 10 tahun. Dan kalau saya kalah, saya harus memanggilmu PADUKA RAJA selama sepuluh tahun” Masyita mencoba menawarkan. Luthfi sepakat dengan model taruhannya. Tapi dia tidak sepakat dengan waktu 10 tahun. “Terlalu singkat” katanya. “Kalau begitu seumur hidup saja”, bagaimana? Masyita kembali menawakan. Tapi Luthfi masih belum sepakat. Trus mau kamu berapa lama? Tanya Masyita sedikit lesu. Luthfi tersenyum, sepertinya menemukan ide yang tepat. “Saya maunya seumur hidup ditambah 3 hari” Bagaimana? Deal? Tanya Luthfi bertampang serius. Masyita mencoba memahaminya. Tak lama kemudian mereka berdua tertawa termakkal-makkal (Perkenalkan bahasa baru). Luthfi dan Masyita bersepakat juga malam itu untuk mendaftar di SMA favorit di kota mereka. Tapi pada akhirnya, Masyita lolos dan Luthfi juga lolos di sekolah favorit ke-dua. Itu artinya, Luthfi dan Masyita beda sekolah. Tapi, mereka tetap sering saling mengingatkan taruhan mereka. Catur-wulan pertama, Luthfi Ranking II di kelasnya dan Masyita Juara kelas. Eitts, Cawu II, ke-duanya juara kelas lho. Cawu III, Luthfi Juara Kelas dan Masyita Ranking II. Tapi masyita ada + (Plus)nya yaitu Masyita diberhentikan sekolah dan dinikahkan oleh orang-tuanya. Sungguh loncatan pendewasaan yang sangat cepat. Dan curamnya jurang sakit hati Luthfi. Mulai saat itu, Luthfi seakan mati rasa. Bahkan selama SMAnya yang banyak teman wanitanya yang mengagumi kecerdasannya, Mau yang paling cantik sampai yang paling jelek, mau paling tajir sampai paling melarat (Yang cantik yang melarat, yang tajir yang jelek) Tak satupun yang singgah.
Sampai tamat SMA, Luthfi lolos matrikulasi di sebuah PTN ternama meski nilai Ujiannya Jelek. Bahasa Indonesia yang standart kelulusannya 4,01, yang di lulusinya 4,01 juga.
DAN WAKTUPUN MAJU KE DEPAN (Ssstt, yang ini jangan di komentari yah!)
Luthfi terkaget bukan main setelah mendengar Masyita memanggilnya dengan sebutan Paduka Raja. Tak ada ekspresi yang dikeluarkan Luthfi, dan Luthfi malah kelihatan bingung. Ia tak menyangka ternyata Masyita mengingat Taruhan yang 8 tahun silam. Masyita pun menyadari kalau kata-katanya barusan membuat Luthfi kelihatan lain dari sebelumya.
Masyita mencoba mengalihkan suasana dengan bertanya, sudah selesai kuliah? Kok tambah kurus? Sambil mencoba tersenyum yang dibuatnya agar tdak ketahuan mengalihkan suasana. Luthfi menjawab seadanya dengan berkata “Belum selesai makanya tambah kurus”. Sambil tersenyum yang agak lumayan sedikit tulus.
“Suami kamu kerja apa sekarang?” Luthfi menelan air liur yang hampir kering. “Ohh iya, anakimage kamu pasti sudah besar. Dan sudah pandai buat surat cinta pastinya, iyakan?” Luthfi kelepasan tanpa ampas. “Saya menceraikan Suami saya”. Sita menjawab pelan sambil menoleh ke arah pamanya. “Kalau anak saya sudah pandai merangkai kata-kata seperti fatwa pujangga, tapi tulisannya jelek. “Yang penting punya kelereng aja!”, Luthfi motong, Lalu menceritakan semuanya, semua-muanya.
Sontak Masyita tertegun, sepertinya dia berpikir dan mengngingat-ingat semuanya, semua-muanya juga. Kemudian ada rasa penyesalan yang teraktual bersama bibir cemberut dan air mata. Tapi di mata Luthfi, ia tetap saja manis dengan raut wajah seperti itu.
Esok harinya, Luthfi meninggalkan kampong halamannya beranjak ke kota untuk melanjutkan tugas akhirnya. Di perjalanan, membayangkan wajah Suriani, Masyita plus anaknya.

No comments:

Post a Comment