Sudah lebih dua pekan saya tidak menulis di note fb ini, yang berarti sudah lama juga tangan ini serasa gatal untuk mengetik, serta sudah lama juga sampah yang ada dalam pikiran ini menumpuk bak tong yang hampir menguapkan gas Metan. Tentunya banyak alasan sehingga saya tidak di dua pekan ini, tapi dari sekian alasan itu, tidak akan saya tuangkan di sini (Halah, Pak JK banget).
Bulan Puasa bagi saya, memang sungguh mengubah pola aktifitas keseharian saya. Sebelumnya, masih terkadang saya tidur pada pukul 10 malam, sampai pada 19 Ramadhan ini tak semalampun saya tdr di bawah jam 12 malam dan lebih sering tidur di pagi hari. Untung saja di bulan Ramadhan ini Kantor saya juga libur (Huik, kantor yang mana? Banyak kantor ku). Tapi se-tidur-tidurnya saya, Surah Al Baqarah, Ar Rahman, dan Juz Amma sudah beberapa kali saya ulang. Seorang Ulama telah berfatwa pada saya bahwa, akan lebih mulia ketika kita membaca AQ (Al Qur'an) yang pada saat kita membacanya, kita juga tahu terjemahan dan pahami arti(tafsiran)nya. Tentang tafsir, saya belum berani mengatakan bahwa Surah-surah di atas, saya paham. Tapi minimal ada beberapa dari tiap surah yang saya pahami dengan saksama. Saya siap diajak diskusi untuk itu (Berbagi, dan bukan sombong).
Ada beberapa hal yang seolah menghantui saya di bulan Ramadhan ini (padahal, hadist mengatakan bahwa Setan dipenjarakan di bulan puasa. Shahih tidaknya saya belum re-cek). Yang pertama, saya merasa saya dalam kondisi miskin Hikmah. Bukannya saya mencari masalah, tapi seperti sedang dikipas angin-angin kenikmatan. Lingkungan saya tidak membuat akal ini fluktuatif untuk berpikir. Forum-forum diskusi di dunia nyata dan dunia Maya (baca : Majelis) tak pernah kuhadiri. Meski di salah-satu forum dunia maya Indonesia (forumkami.com) saya adalah Ketua Regional Makassar sejak awal tahun 2009 lalu. Sangat mengalirkan pengetahuan, bak mata air yang mengalir ke muara (hihhhaaa). Hal-hal tersebut membuat perenungan saya semakin singkat dan terkadang hampa.
Yang ke-dua, Kalah pacuan dengan usia. Mungkin merupakan efek yang pertama karena saya merasa tidak ada batu loncatan untuk menjadi dewasa. Pada tanggal 21 Agustus (10 Ramadhan H) yang lalu, genap saya berusia 24 tahun (jangan kaget dengan pengakuan saya ini, memang kalau dari segi raut wajah saya masih sweet seventeen). Hal inilah yang membuat saya kurang konfidens dengan realitas eksternal. Mandiri belum, perilaku kekanak-kanakan, Sarjana dikit lagi, Calon Istri belum ada (yang paling parah dan paling menakutkan), Tabungan menipis. Tapi untung juga saya belum punya tali tambang (untuk gantung diri).
Nyang ke-tiga, 3H (Hura-hura Holic). Entahlah, akar masalah dari yang pertama atau merupakan akibat (yang ini saya persilakan anda meng-cluster nya). Asyik sih, ada acara foto-fotonya. Tapi kata Bang Haji (Rhoma Irama), "mengapa semua yang asyik-asyik itu diharamkan?". Tapi yang saya "asyikkan" bukan yang haram juga, dalam kurung akhir-akhir ini saya lebih sering bercanda dengan teman-teman saya saat berbuka puasa. Seperti tidak sah berbuka puasa tanpa mereka. Tanda asyiknya, sampai panggilan Shalat Maghrib dilewatkan dengan tawa, sungguh terlalu.
Yang Ke-empat, saya mulai pikun. Buktinyam sebelum menulis, ada jutaan (lebay) ketakutan yang akan saya tulis. Tapi nyatanya, saya cuma ingat tiga saja. Wah, superfluity (Bagooos) :bd:
Mengenang Syahid Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as di Kufah 19 Ramadhan 40 H.
Labbaika yaa Imam,
Maafkan saya cappo', saya tidak memenuhi panggilanmu.
Tulisan di atas tdk ku sangkut-pautkan dengan "Mengenang" ini.
dipertengahan malam Himatepa 31 Agustus 2010, 20 Ramadhan 1431 H.
No comments:
Post a Comment