Dia tidaklah secantik Anna Maria Sopha, Dina Mariana, Marissa Haque, dan sederet Artis di jamannya tapi sedetikpun saya tak ingin dia tergantikan oleh mereka. Tak seberuntung, Ibu Tien, Ibu Ainun, Ibu Ani, dan sederet Ibu Negara Lainnya tapi ketika saya diminta memilih takdir, saya tetap ingin menjadi seorang anak laki-lakinya dan hidup bahagia seperti ini.
Aku pernah kesal sesaat ketika dia mengakui ada sesuatu yang lebih agung darinya. Dia menyebut Allah azza wa Jalla sebagai sesuatu yang agung tersebut. Betapa saat itu saya kecewa.Yang ternyata ada yang melebihinya. Tapi tidak lama kekecewaan itu. Dia menjadi guru pra-sekolah saya yang kupahami sekarang. Guru yang tulus, jauh lebih tak kenal pamrih. Jauh lebih ikhlas. Dan tak seikhlas dalam akal bagi siapapun yang belum mempunyai seorang anak dengan sejuta harapan di kemudian hari.
Dewasa ini, do’a dan sejuta harap darinya menuntun jalan menuju cahayaNya. tapi kadang kaki ini berkelok dan menuju gelap. Sampai mengingatnya dan kembali ke JalanNya. Sungguh ikhlasnya, bagaimanapun saya berbohong, tak henti-hentinya mendo’akan, merestukan, yang terbaik untuk saya membuatnya lebih mulia dari namanya.
No comments:
Post a Comment