Konklusi diskusi lepas bersama dua orang teman saya bahwa menulis adalah sebuah kewajiban. “Sampaikanlah walau satu ayat”, “Ilmu harus dibagi”, “sedangkal apapun pengetahuan itu, suatu saat ada yang membutuhkannya, minimal mereka beranggapan bahwa beginilah pengetahuan-pengetahuan mereka (kita) di zamannya, suatu saat nanti”, menjadi alur diskusi menemukan kesimpulan itu.
Tak berselang lama, seorang teman saya memperihatkan sebuah tulisan singkatmilik kanda Yusran Darmawan yang menjadikan saya bertambah panas dan langsung ingin mempublishnya. Seperti seruan menulis dengan menyapu punggung saya sampai tertidur pulas bermimpi selama 1000 tahun dan terbangunkan dengan sebuah kobaran api membakar hati saya untuk bangun dan menulis. Saya sudah lama mengenal beliau (Yusran Darmawan). Pertama kali melihatnya langsung, pada saat beliau menjadi pembicara di sebuah seminar di pelataran Baruga A.P. Pettarani unhas yang diadakan oleh HMI Cabang Makassar Timur. Tapi lebih jauh mengenalnya pada saat beliau menjadi Pemateri di Latihan Kader II (LK II) Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Makassar Timur akhir tahun 2007 yang lalu.
Melalui hari-hari setelah diskusi itu, saya sudah Confidence menulis beberapa dan mempublishnya di note Facebook, di Blog saya juga yang lama tidak terurus (sekarang sudah banyak saya ubah), serta memposting beberapa tulisan di forum-forum diskusi dunia maya. Tapi ada hal yang membuat saya tidak sreekdengan hal tersebut, yaitu apapun dan sehancur bagaimanapun tulisan saya, mereka (teman-teman saya) hanya menyebut “mantaf, nice threet dan sebagainya. Padahal anehnya, setiap saya membaca ulang tulisan saya tersebut, selalu saja melenceng dari pesan yang sebenarnya ingin saya sampaikan lewat tulisan itu. Saya kemudian mengingat sebuah frase “apa yang kamu dapatkan kedepannya adalah hasil dari lingkungan yang kau jalani saat ini”. Dari situlah saya berpikiran untuk belajar pada seseorang yang khatam pada bidang ini. Makanya saya mencoba menggugling “Yusran Darmawan” dan menemukan blognya. Scroolbar blog tersebut ku naik-turunkan untuk membaca beberapa tulisan beliau dan memang tidak satupun dari tulisan tersebut yang tidak sarat makna. Saat itu juga saya menyimpulkan bahwa orang inilah yang tepat untuk dijadikan sebagai patron.
Beberapa saat kemudian, saya menemukan tulisan yang berjudul Sensasi jadi Headline, dan menemukan sebuah situs yang bernama KOMPASIANA. Awalnya saya hanya menyimak-nyimak menubar Tentang Kami, Tata Tertib, Bantuan, dan profil beberapa kompasianer beserta tulisan-tulisannya. Kesimpulan saya pada kompasiana ini adalah ruang para citizen reporter yang yang sudah berpengalaman di dunia jurnalistik, serta social networking para blogger Indonesia senior.
Satu hal yang sangat penting bahwa ketika Online menggunakan PC, saya berpikir bahwa, game-game online seperti poker dan ninja Zaga, chating tak konstuktif, adalah hal yang sungguh menyita waktu. Sampai akhirnya saya menemukan ini, saya tersenyum dan berkata akhirnya kutemukan Kompasiana.
No comments:
Post a Comment