Ramma, lembah padang rumput lereng gunung bawakaraeng sebagai tempat pelarian para garombolan (sebutan orang untuk menggantikan kata “Komunitas, kelompok, korps, laskar pemuda” ketika dicari oleh para tentara 7/10. Entahlah kalau kata garombolan telah lama diucapkan saat orang belanda ke Indonesia, yang pasti sudah ada saat tentara 7/10 membuat sejarah Sulawesi selatan.
“Garombolan” yang identik dengan “gelandangan, anarkian, orang miskin dan premanisme” sebagai kata untuk yang bisa mewakilkan bentuk meminimalisir atau bahkan menghilangkan arogansi atas status kaum intelektual sebagai mahasiswa. Terdengar lebih klasik dan kuno sebagai bentuk kesederhanaan dan berbahasa konfensional sebagai manifestasi kecintaan etnis. Luwes, apa adanya seperti gelandangan yang tidak tahu trend atau tahu tapi mencoba menghindar dari budaya tak berfalsafah.
Komunitas beberapa orang yang mencoba menafsirkan fitrah sosial manusia biasa. Sangar atas keberanian mengidentikkan premanisme atau anarkisme, kritik dan bentuk perlawanan sekelompok orang yang anti akan kemapanan atas carut-marutnya sistem. Sekelompok orang pencinta yang tidak dapat mengaktualisasikan kecintaan mereka pada alam yang no-limit atas keterbatasannya dibaluti hijab yang tebal dari dosa, hanya dapat berharap di anugerahkannya cinta untuk dapat mencintai seorang pencinta yang hanya dirinya yang mampu untuk mencitai alam jagad raya ini. Dengan kata lain, para pencinta ini terbatas untuk mencintai seluruh alam, Mereka hanya hidup di satu alam, olehnya mereka cukup mencintai sang pencinta atas seluruh alam.
Pencinta Alam, sang kekasih Allah juga megahnya alam semesta yang tak pantas untuk dikatakan Insan. Jika Insan, Dia adalah insan Kamil (Manusia Sempurna). Cahaya atas cahaya (Nurun fauka Nuri), Jalan hidupnya pancarkan cinta. Jika tak mampu mencintai alam, cukup dengan mencintainya! Kecintaan akan alam beserta seluruh seluruh isinya, bentuk kecintaan kepada sesama. Mereka bertasbih layaknya sang pencinta. Yusobbilahu Maafissamawati wal-ardhu… “bertasbih kepada Allah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi.
Makassar 23, Januari 2009

No comments:
Post a Comment