Sunday, 9 February 2014

Jaga Image

Kutulis ini saat teringat beberapa saat sebelum berlabuh mu.
Bunyi ringtone itu kupastikan SMS darimu, segera aku mandi yang tak seperti biasanya, kali ini aku mandi sebersih-bersihnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki semua penuh buih, kulitku yang sebelumnya sawo matang merubah memerah setelah kugosok dan ku garuk dengan kuku ku. Malam ini harus menjadi malam spesialku. Bertemu denganmu untuk berpisah beberapa waktu. Aku tak tahu pasti berapa lama akan  tak melihat wajahmu dengan mata kepalaku.
Setelah mandi, beberapa kali aku harus mengganti pakaianku, dari kemeja ke kaos Oblong dan kembali ke kemeja dan berakhir dengan kaos Oblong lagi. Celana Jeans Panjang. Tidak lupa, cologne. Karena sore tadi sedang hujan, kuputuskan menggunakan Jumper  adikku sebab di luar sangat dingin. Aku harus tampak sehat dan berperilaku sehat di depanmu. Meski di hari-hari biasanya, ini adalah kebiasaan yang aneh.
Aku membawa laptopku karena berencana ke cafe untuk online setelah kepergian mu nantinya. Selain itu, menggunakan tasku sedikit menggambarkan diriku bahwa aku adalah orang yang aktif. Aku berangkat jam delapan malam dengan melalui pinggiran jalan tol, karena jaraknya akakn lebih dekat dan tidak macet.
Di perjalanan itu ada asap sisa pembakaran yang beterbangan di tengah jalan, sungguh sebuah perjalanan seorang bintang dalam perburuan cintanya, aku tersenyum mengkhayalkan hal itu. Karena ini merupakan jalan pertama kulalui sepanjang hidupku, aku tersesat di sekitar pertengahan jalan itu. Tapi maaf, akan lebih bermakna perburuan ini ketika aku tidak bertanya dan mendapatkan jalan yang sebetulnya. Ada jalan yang beberapa kali ku lalui dengan berulang, sepertinya aku tersesat dalam kompleks perumahan. Dan saatnya aku  harus mengalah dengan bertanya pada seorang bapak yang sedang mencuci mobilnya di pinggir jalan, “Pak, jalan ke Pelabuhan yang arah mana?”
Ujung jalan menuju pelabuhan sudah terlihat, seharusnya aku senang tapi realitasnya tidak demikian, jantungku berdetak seperti sedang ketakutan. Bertemu dengan mu baru untuk kedua kalinya setelah bertemu di rumahmu beberapa saat yang lalu tanpa kata, di saat kau akan pergi jauh entah kapan akan kembali.
Di areal pelabuhan aku berharap kau sudah menungguku di parkiran. Tapi sama sekali aku tak melihat batang hidungmu. Aku bergegas memarkir motor dan mencoba mencarimu dan ketika sudah mendapatkanmu akan membuatmusurprise. Ku cari di tempat banyak orang berkumpul, kau tak ada, di halte penumpang tak ada juga. Pelabuhan ini terlalu luas, mungkin ketika aku sudah mendapatkanmu, modelku akan berkeringat dan ngos-ngosan.
Aku menghubungi ponselmu, keputusan yang tepat saat ini, meski kelihatan tidak romantis, daripada harus berkeringat bertemu denganmu, aku menghindari kemungkinan buruk yang akan terjadi nantinya. Dengan handphone di tanganmu kau tampak dari kejauhan mencariku. Semakin dekat kau tampak cantik saja. Kutatap matamu sambil tersenyum berharap kau tak melihat tatapanku ini.
Semakin dekat, rasanya badan ini akan roboh tapi untung saja aku kuat menahannya. ku beranikan diri untuk bersalaman setelah memasukkan HP ke sakuku. Sambil ku tundukkan kepalaku aku mendekatkan tangan kanan ku untuk berjabat tangan. Dan, ku sentuh juga tanganmu yang lembut, sangat lembut. Saat ingin ku lepas tanganku, “sampai jumpa kapan-kapan!” Lalu pergi bagai badai.
Di jalan aku sungguh sangat menyesal yang hanya mampu berkata seperti itu. Padahal tadi malam ada jutaan kata yang tersusun rapi, tapi kenapa kata itu tak mampu keluar dari bibirku. Hufft! (ZAM)

No comments:

Post a Comment